Langsung ke konten utama

Membayar Hutang Plus Hasil Pohon


Oleh:
Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA.

Assalamu’alaikum....
Ustadz, saya mau bertanya. Sebulan lalu, ada teman di desa yang meminjam uang sebesar Rp. 2.000.0000.

Teman saya itu, nantinya akan membayar hutangnya dengan besaran sama (dua juta rupiah) ditambah dengan hasil dari delapan pohon  cengkeh miliknya yang akan panen setahun lagi.

Biasanya, satu pohon cengkeh, jika berhasil menghasilkan sekitar Rp.500.000,-/ pohon. Nah, model transaksi hutang-piutang seperti ini sudah sangat lazim di desa kami.

❓Pertanyaannya.❓Bagaimana hukum hutang piutang seperti itu? Kedua belah pihak (yang berhutang dan yang punya piutang) sama-sama rela, tidak ada paksaan.

💬Bibit, di Malang
____________________________

💭Jawab
Pinjam-meminjam atau hutang-piutang (qardh) dalam fiqih termasuk akad tabarru`, akad tolong-menolong. Akad ini dianjurkan dalam Islam dalam rangka membantu saudara yang menghadapi kesulitan.

Karena akad tolong menolong, maka kreditur (pemberi pinjaman) tidak boleh mengambil keuntungan, baik berupa barang maupun uang. Kelebihan (tambahan) yang diterima oleh kreditur dari debitur, bila disyaratkan di saat akad atau dijanjikan di awal akad, maka termasuk riba.

Riba itu, kata Mujahid –rahimahullah- terdapat dalam transaksi di mana setiap kali seseorang mengadakan perjanian pinjaman, si debitur (peminjam) meminta kepada krediturnya (yang memberi pinjaman) untuk memberi jangka waktu pembayaran dan berjanji akan mengembalikan padanya dengan sejumlah kelebihan yang ditentukan dari uang pokok yang dipinjamkan.

Riba hukumnya haram berdasar Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad –shallallahu `alaihi wa sallam.

Meskipun kedua pihak sepakat dan saling rela, maka tetap hukum haram. Karena kerelaan dan kesepakatan tidak bisa merubah sesuatu yang haram menjadi halal.

🚫Sebagai contoh ekstrim, meskipun lelaki dan perempuan yang tidak diikat oleh pernikahan itu saling suka dan rela untuk berhubungan intim, tetap disebut zina yang diharamkan.

Meskipun peminjam dan pemberi pinjaman sepakat di saat akad dan tidak ada paksaan untuk memberi tambahan, tetap disebut riba yang dilarang.

Demikian pula dengan kebiasaan atau u`rf. Kebiasaan yang keliru di tengah masyarakat tidak bisa dijadikan alasan untuk membolehkan suatu transaksi.

Dalam Islam, u`rf (kebiasaan) itu ada dua jenis: shahih (benar) bila selaras dengan syariat Islam, dan `urf fasid (rusak), bila bertentangan dengan syariat dengan demikian tidak bisa dijadikan sebagai dalih dan alasan.

Kebiasaan riba di masyarakat tergolong 'urf fasid (adat yg rusak), bertentangan dengan dalil sekaligus bertolak belakang dengan spirit tolong-menolong yang menjadi ciri masyarakat kita.

Wallahu a`lam bishawab

🚦🚦🚦🚦🚥🚥🚦🚦🚦🚦

📡Join Telegram:
http://telegram.me/ahmadjalaluddin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Q & A Terkait Villa Syariah Kawasan Wisata Batu

Q: harga 60 juta itu maksudnya bagaimana? 
A: harga 60 juta itu harga 1 slot dalam satu villa.

Q : maksudnya slot itu bagaimana? 
A: ini Villa komersial convention hall, nantinya disewakan. Satu Villa itu 18 slot. Bisa beli satu atau lebih dari satu. 

Q: Itu kepemilikannya bagaimana? 
A: SHM dengan mencantumkan seluruh pemilik.

Q: Apakah SHM bisa atas nama banyak orang?
A: Bisa, yang dimaksud dengan sertifikat, menurut Pasal 1 angka 20 Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah (“PP 24/1997”), adalah surat tanda bukti hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (“UUPA”) untuk hak atas tanah, hak pengelolaan, tanah wakaf, hak milik atas satuan rumah susun dan hak tanggungan yang masing-masing sudah dibukukan dalam buku tanah yang bersangkutan.

Pasal 31 ayat (4) PP 24/1997 yang mengatur bahwa hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun kepunyaan bersama beberapa orang atau bad…

INI CARA MELIPAT GANDAKAN UANG DENGAN HALAL!

Semua orang pastilah memiliki keinginan kaya, dan juga sukses. Bahkan tidak sedikit yang ingin merasakannya dengan waktu yang cepat. Tapi tentu saja yang instan dan cepat itu punya konsekuensi besar, pertama TIDAK AKAN LAMA BERTAHAN, dan kedua DOSA. Karena yang cepat dilakukan dengan cara-cara yang HARAM. Seperti pesugihan, judi, RIBA, yang kesemuanya Allah haramkan.

Tapi ada Cara HALAL untuk bisa sukses dan kaya, seperti apa?

1. SEDEKAH

"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa." (2:276)

Alquran : Surah Al Baqarah> Ayat 267Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari HASIL USAHAMU YANG BAIK-BAIK dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan JANGANLAH KAMU MEMILIH YANG BURUK-BURUK lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa All…

MENANTANG ALLAH DENGAN TERUS BERHUTANG RIBA

Riba sudah menjadi bagian keseharian. Banyak orang menganggap hutang riba biasa saja. Sulit kita temukan orang tidak pake KPR, kartu kredit, kredit motor, kredit mobil, kredit HP bahkan sampai kredit umrah haji. Bagi pendukung hutang riba, mereka akan bilang, “mana mungkin hari gini nggak pake hutang (riba)? Mustahiiilll” Mereka pikir bahwa hidup tanpa kredit riba, tidak bisa hidup layak. Padahal tanpa riba kita bisa hidup layak sejahtera.
Ekonomi yang dibangun diatas ribawi, ibarat bubble economy. Semakin besar balonnya, semakin mudah meletus kapan saja. Semakin besar hutang ribanya, semakin besar kemungkinan untuk menunggu bangkrut. Sesuai janji Allah dalam Q.S Al Baqarah : 275-279 bahwa Allah akan memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Bagi orang yang nggak segera taubat, dia tidak akan dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Bukti ayat ini, banyak orang pusing, mumet, stress, bahkan gila hingga mau bunuh diri akibat hutan…